Belum Maksimal Vaksin Corona Sudah Banjir Pesanan

Ilustrasi Vaksin Corona. Foto: tempo.coInfoBogorTimur.COM, Skenario berakhirnya pandemi corona di seluruh dunia mengharapkan penemuan obat, vaksin dan herd immunity atau kekebalan tubuh dari virus corona.

Banyak negara berlomba-lomba untuk menciptakan obat ampuh serta vaksin untuk dilakukan uji coba tingkat keberhasilan dan efek samping yang disebabkan vaksin tersebut.

Vaksin dinilai menjadi senjata ampuh umat manusia untuk bertahan hidup dan melakukan perlawanan terhadap teror dari musuh ultramikroskopik yang mengancam kelulushidupan para Sapiens.

Namun sudah lebih dari enam bulan 7 miliar penduduk bumi harus hidup terkekang lantaran ‘penangkal mujarab’ itu belum tersedia. Meskipun belum tersedia, upaya untuk mengembangkan vaksin paling efektif terus dilakukan oleh banyak pihak.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sudah ada 24 kandidat vaksin yang sedang diuji secara klinis kepada manusia. Tiga kandidat yang dijagokan adalah produksi Moderna, AstraZeneca dan Sinovac. Untuk saat ini perusahaan yang bermarkas di Inggris (AstraZeneca) dan China (Sinovac) tengah melakukan uji klinis tahap akhir.

Ketiga perusahaan tersebut membuat vaksin dengan metode yang berbeda-beda.

Moderna mengembangkan vaksin dengan teknologi nano. Kandidat ini menggunakan suatu jenis materi genetik virus bernama messenger RNA (mRNA) yang mengkode antigen protein spike milik virus corona (SARS-CoV-2) yang dibalut dalam suatu jenis senyawa lemak tertentu.

Hasil uji klinis tahap satu yang dilakukan akhir Maret lalu telah dipublikasikan di New England Journal of Medicine. Sebanyak 45 relawan telah direkrut untuk menjadi peserta uji klinis tahap pertama.

Kabar gembiranya adalah semua peserta uji klinis dilaporkan berhasil menghasilkan antibodi. Moderna rencananya akan melakukan uji klinis tahap akhir di bulan ini. Jika tidak ada halangan yang berarti maka Moderna akan segera memproduksi 1 miliar vaksin mulai tahun depan.

Beralih ke kandidat lain yakni AstraZeneca, hasil uji klinis yang terbaru juga sudah dimuat di jurnal The Lancet. Hasilnya juga positif, antibodi dihasilkan oleh para peserta uji klinis mulai dihasilkan pada hari ke-14 setelah diuji.

Dengan keluarnya hasil uji positif ini, kandidat vaksin AstraZeneca dapat melanjutkan uji klinis tahap terakhir atau fase ketiga. Sama seperti Moderna, jika tak ada halangan yang berarti maka AstraZeneca dapat memproduksi hingga 2 miliar dosis.

Uniknya adalah, sebelum vaksin ini tersedia sudah banyak negara yang mengantre untuk membelinya. Misalnya Amerika Serikat (AS) melalui operation Warp Speed telah memesan 300 juta dosis vaksin dari AstraZeneca dan Universitas Oxford ini.

Tak hanya AS saja, Inggris juga sudah memesan 100 juta dosis dari AstraZeneca ini. Uni Eropa yang tergabung dalam Europe’s Inclusive Vaccines Alliance (IVA) yang terdiri dari Perancis, Jerman, Italia dan Belanda juga sudah memesan 400 juta dosis.

Bukan hanya AstraZeneca saja yang sudah dipesan vaksinnya sementara barangnya belum ada. Kandidat vaksin dari Pfizer dan BioNTech juga sudah dipesan oleh Inggris. Kedua perusahaan farmasi itu harus memasok 30 juta dosis ke Negeri Ratu Elizabeth.

Inggris juga memesan vaksin dari perusahaan bioteknologi asal Perancis bernama Valneva. Perusahaan ini sudah terikat kontrak dengan Inggris untuk memasok kurang lebih 60 juta dosis vaksin ke Negeri John Bull.

Fenomena pesan vaksin terlebih dahulu sebelum barangnya ada ini ditengarai oleh kekhawatiran banyak negara tidak akan mendapat ‘jatah’. Sejauh ini negara-negara yang sudah memesan terlebih dahulu merupakan negara-negara yang ‘kaya’.

Hal ini tentu memicu timbulnya kekhawatiran lain bahwa total tiga miliar dosis vaksin yang berpotensi tersedia tahun depan hanya akan dimiliki oleh negara-negara maju saja. Padahal total populasi penduduk dunia mencapai 7,8 miliar orang.

Jika satu orang harus diberikan sebanyak 2 dosis maka kebutuhan dosis untuk mewujudkan imunisasi global mencapai 15,6 miliar.

Mengingat adanya keterbatasan ini maka pemberian vaksin diprioritaskan kepada orang-orang yang berisiko tinggi seperti pekerja kesehatan hingga lansia dan usia muda dengan komorbiditas seperti penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, obesitas , atau penyakit pernapasan kronis.

Selanjutnya untuk menjelaskan terkait apakah semua negara bakal mendapatkan vaksin, GAVI (aliansi vaksin global) terus berupaya agar vaksin Covid-19 menjadi barang milik publik melalui program yang dinamakan COVAX Facility.

Hingga 15 Juli 2020, sudah ada 75 negara yang tertarik untuk bergabung dengan COVAX Facility. Tujuh puluh lima negara ini akan membantu mendanai pengembangan vaksin dan bekerja sama dengan 90 negara berpenghasilan rendah lain yang didukung oleh GAVI.

Tujuan COVAX adalah untuk menghasilkan dua miliar dosis vaksin yang aman dan efektif yang telah melewati persetujuan otoritas kesehatan. Vaksin-vaksin ini akan dikirimkan secara merata ke semua negara yang berpartisipasi, sebanding dengan populasi mereka, dengan prioritas terhadap petugas layanan kesehatan kemudian berkembang hingga mencakup 20% dari populasi negara yang berpartisipasi.

Dosis lebih lanjut akan disediakan berdasarkan kebutuhan negara, kerentanan dan ancaman Covid-19. COVAX juga akan menyediakan dosis cadangan/penyangga untuk penggunaan darurat, termasuk menangani wabah tak terkendali.

Keberhasilan upaya ini pada akhirnya akan sangat bergantung pada jumlah dana yang digelontorkan oleh pemerintah negara anggota serta komitmen dari produsen vaksin untuk untuk menyediakan vaksin dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.

Melalui COVAX, negara-negara yang mendanai vaksin melalui anggaran domestik diharuskan untuk memberikan pembayaran dimuka dan berkomitmen untuk membeli dosis pada akhir Agustus.

Kemajuan yang signifikan telah dicapai oleh beberapa mitra COVAX hingga saat ini. Ada tujuh dari sembilan kandidat vaksin yang didukung oleh CEPI sudah dalam uji klinis. Nota kesepahaman dengan AstraZeneca juga berkomitmen untuk memasok 300 juta dosis vaksin COVID-19 ke COVAX.

Selain itu, pada bulan Juni lalu GAVI meluncurkan COVAX Advance Market Commitment (AMC), sebuah instrumen pembiayaan yang bertujuan mendorong produsen vaksin untuk memproduksi vaksin Covid-19 dalam jumlah cukup untuk memastikan akses ke negara-negara berkembang.

AMC telah mengumpulkan hampir US$ 600 juta dari target awal US$ 2 miliar dari donor berpenghasilan tinggi serta sektor swasta. Aliansi GAVI juga akan bekerja dengan negara-negara berkembang untuk memastikan kesiapan pasokan dan rantai dingin serta pelatihan untuk menjangkau kelompok berisiko tinggi.

Di Indonesia sendiri ada tiga kerja sama pengembangan vaksin. Kerja sama pertama antara perusahaan farmasi pelat merah PT Bio Farma dengan perusahaan farmasi China, Sinovac. Kemudian ada juga PT Kalbe Farma Tbk yang tergabung dalam konsorsium Genexine dan yang terakhir adalah konsorsium lokal yang dipimpin oleh lembaga molekuler Eijkman.

Jika memang tidak ada kendala yang berarti dalam uji klinis saat ini, maka vaksin baru akan tersedia paling cepat tahun depan dengan potensi total mencapai 2 miliar dosis. Jika mengacu pada kalkulasi WHO maka dibutuhkan setidaknya 4,2 miliar dosis vaksin untuk kurang lebih dua miliar orang dengan asumsi satu orang dua dosis.

Di Indonesia sendiri kebutuhan akan vaksin Covid-19 mencapai 340 juta dosis. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 9 Juni lalu.

“Kebutuhan vaksin Covid-19 apabila ada 170 juta masyarakat butuh minimal dua kali shot [suntikan], maka butuh 340 juta vaksin. Oleh karena itu BUMN bekerja sama dengan beberapa perusahaan Korea,” kata Airlangga melalui video conference, Selasa (9/6/2020) malam.

Saduran | CNBC Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Lama Mengidap Diabetes Pelawak Omas Meninggal Dunia

InfoBogorTimur.COM, kabar duka kembali terjadi di dunia hiburan tanah air, pelawak Omaswati alias Omas meninggal ...